Sikap Partai Buruh terhadap Agama

V.I. Lenin (1909)


Pertama kali diterbitkan di Proletary, No. 45, May 13 (26), 1909.

Sumber: The Attitude of the Workers’ Party to Religion. Lenin Collected Works Volume 15. Moscow, Progress Publishers, 1973, hal. 402-413.

Penerjemah: Ibnu Asmoredjo (22 Juni 2026)


Pidato Deputi Surkov di Duma[1] saat memperdebatkan anggaran Sinode, serta diskusi internal fraksi kita ketika mengkaji draf pidato tersebut (keduanya diterbitkan dalam edisi ini), telah memantik sebuah persoalan yang amat krusial dan mendesak pada saat ini. Tak bisa dimungkiri, ketertarikan terhadap segala hal yang berkaitan dengan agama kini tengah menjangkiti kalangan luas “masyarakat”. Sentimen ini bahkan telah menyusup ke dalam barisan kaum intelektual yang bersimpati pada gerakan kelas pekerja, serta merasuk ke sebagian kalangan buruh itu sendiri. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban mutlak bagi kaum Sosial-Demokrat untuk menyatakan secara terbuka bagaimana sikap mereka terhadap agama.

Sosial-Demokrasi mendasarkan seluruh pandangan dunianya pada sosialisme ilmiah, yakni Marxisme. Sebagaimana ditegaskan berulang kali oleh Marx dan Engels, landasan filosofis Marxisme adalah materialisme dialektis. Falsafah ini mewarisi seutuhnya tradisi historis materialisme Prancis abad ke-18 dan pemikiran Feuerbach[2] di Jerman pada paruh pertama abad ke-19, sebuah materialisme yang mutlak ateistis dan secara terang-terangan memusuhi segala bentuk agama. Mari kita ingat kembali karya Engels, Anti-Dühring, yang draf naskahnya telah ditelaah sendiri oleh Marx. Seluruh isi buku tersebut merupakan gugatan tajam terhadap Dühring[3]. Meski Dühring tampil sebagai sosok materialis dan ateis, Engels mendakwanya tidak konsisten karena masih menyisakan celah bagi masuknya agama dan filsafat religius. Ingat pula esai Engels tentang Ludwig Feuerbach; di sana ia mengecam Feuerbach karena perlawanannya terhadap agama tidak ditujukan untuk menghancurkan institusi tersebut, melainkan sekadar untuk memolesnya guna menciptakan sebuah agama baru yang seolah-olah lebih “luhur”. Agama adalah candu bagi rakyat – dalil Marx inilah yang menjadi batu penjuru bagi seluruh pandangan Marxis terhadap agama.[4] Marxisme senantiasa memandang seluruh agama dan gereja modern, dan setiap entitas keagamaannya, sebagai instrumen reaksi borjuis yang digunakan untuk melanggengkan eksploitasi dan mengaburkan kesadaran kelas pekerja.

Pada saat yang sama, Engels kerap mengecam upaya orang-orang yang ingin tampil “lebih kiri” atau “lebih revolusioner” daripada kaum Sosial-Demokrat, yakni mereka yang mendesakkan agar program partai buruh mencantumkan deklarasi ateisme secara terang-terangan, dengan tujuan menyatakan perang terhadap agama. Ketika mengomentari manifesto kaum pelarian Komunard Blanquist[5] yang diasingkan di London pada 1874, Engels menyebut seruan lantang mereka untuk memerangi agama sebagai sebuah kebodohan. Ia menegaskan bahwa deklarasi perang semacam itu justru merupakan instrumen paling ampuh untuk membangkitkan kembali ketertarikan pada agama dan mencegahnya mati secara alamiah. Engels mengkritik kaum Blanquist karena mereka gagal memahami satu hal penting: hanya perjuangan kelas massa pekerja, yang secara komprehensif menarik lapisan proletar terluas ke dalam praktik sosial yang sadar dan revolusioner, yang mampu membebaskan massa tertindas dari belenggu agama. Sebaliknya, menjadikan perang melawan agama sebagai tugas politik partai buruh hanyalah retorika kosong kaum anarkis.[6] Begitu pula pada 1877 dalam karyanya, Anti-Dühring. Di satu sisi, Engels menyerang tanpa ampun sekecil apa pun konsesi yang diberikan Dühring si filsuf terhadap idealisme dan agama; namun di sisi lain, ia juga menentang keras gagasan pseudo-revolusioner Dühring yang ingin melarang agama di dalam masyarakat sosialis. Mengobarkan perang semacam itu terhadap agama, kata Engels, sama saja dengan “bertindak lebih Bismarck daripada Bismarck”, yakni mengulangi kebodohan Kanselir Bismarck saat memerangi kaum klerus (dalam Kulturkampf[7] atau “Perjuangan Budaya” yang terkenal itu  pada 1870-an, di mana Bismarck menindas partai Katolik Jerman, Partai “Tengah”, melalui persekusi kepolisian terhadap umat Katolik). Melalui penindasan tersebut, Bismarck justru memicu bangkitnya klerikalisme militan di kalangan umat Katolik dan merusak kerja membangun kebudayaan yang sejati, karena ia malah menonjolkan sentimen perpecahan agama ketimbang perpecahan politik. Akibatnya, perhatian sebagian kelas pekerja dan elemen demokratis lainnya teralihkan; dari yang seharusnya berfokus pada tugas-tugas mendesak terkait perjuangan kelas dan revolusi, malah terseret ke dalam arus anti-klerikalisme borjuis yang dangkal dan semu. Mengecam Dühring si “ultra-revolusioner” palsu karena ingin mengulangi kebodohan Bismarck dalam wujud lain, Engels bersikeras bahwa partai buruh harus bekerja dengan sabar untuk mengorganisasi dan mengedukasi kaum proletar, sebuah proses yang kelak akan menuntun pada melenyapnya agama dengan sendirinya, bukannya malah menjerumuskan diri ke dalam pertaruhan sembrono berupa perang politik melawan agama.[8] Pandangan inilah yang kemudian menjadi bagian dari esensi Sosial-Demokrasi Jerman, yang misalnya mengadvokasi kebebasan bagi ordo Jesuit, mengizinkan mereka masuk ke Jerman, dan menolak sepenuhnya penggunaan metode aparat kepolisian dalam memerangi agama apa pun. “Agama adalah urusan pribadi”: poin masyhur dalam Program Erfurt[9] (1891) ini merangkum dengan sempurna taktik politik Sosial-Demokrasi.

Taktik-taktik ini sekarang telah menjadi rutinitas, dan dengan demikian telah memunculkan distorsi baru terhadap Marxisme ke arah yang sebaliknya, yakni ke arah oportunisme. Poin dalam Program Erfurt ini kemudian ditafsirkan seolah-olah bermakna bahwa kita kaum Sosial-Demokrat, Partai kita, menganggap agama sebagai urusan pribadi, bahwa agama adalah urusan pribadi bagi kita sebagai kaum Sosial-Demokrat, bagi kita sebagai partai. Tanpa meluncurkan polemik langsung dengan pandangan oportunis ini, pada tahun 1890an Engels merasa perlu untuk menentangnya secara tegas dalam bentuk yang positif, dan bukan dalam bentuk polemik. Yakni: Engels melakukan ini dalam bentuk sebuah pernyataan, yang sengaja ia garis bawahi, bahwa kaum Sosial-Demokrat memandang agama sebagai urusan pribadi dalam hubungannya dengan negara, tetapi tidak dalam hubungannya dengan diri mereka sendiri, tidak dalam hubungannya dengan Marxisme, dan tidak dalam hubungannya dengan partai buruh.[10]

Demikianlah sejarah eksternal dari pernyataan-pernyataan Marx dan Engels mengenai persoalan agama. Bagi orang-orang yang hanya memahami Marxisme secara dangkal, bagi orang-orang yang tidak bisa atau tidak mau berpikir, sejarah ini seperti benang kusut yang penuh dengan kontradiksi dan kebimbangan Marxis, di mana ateisme yang “konsisten” bercampur dengan “konsesi” terhadap agama, dengan kebimbangan “tanpa prinsip” antara perang r-r-revolusioner melawan Tuhan dan hasrat pengecut untuk “mengambil hati” kaum buruh yang religius, kekhawatiran menjauhkan buruh religius, dst., dst. Literatur dari para penjaja retorika anarkis memuat banyak serangan seperti ini terhadap Marxisme.

Namun, siapa pun yang mampu menelaah Marxisme secara serius, yang mau merenungkan prinsip-prinsip filosofisnya serta pengalaman Sosial-Demokrasi internasional, akan segera melihat bahwa taktik Marxis berkenaan dengan agama adalah sepenuhnya konsisten, dan telah dipikirkan matang-matang oleh Marx dan Engels. Apa yang dianggap oleh para diletan dan orang-orang dungu sebagai kebimbangan tak lain merupakan deduksi yang langsung serta niscaya dari materialisme dialektis. Merupakan sebuah kesalahan besar untuk mengira bahwa apa yang tampak sebagai “moderasi” Marxisme berkenaan dengan agama disebabkan oleh pertimbangan-pertimbangan “taktis”, keinginan untuk “tidak menakut-nakuti” siapa pun, dan sebagainya. Sebaliknya, dalam persoalan ini pun, garis politik Marxisme terikat secara tak terpisahkan dengan prinsip-prinsip filosofisnya.

Marxisme adalah materialisme. Oleh karena itu, ia memerangi agama sama gigihnya seperti materialisme kaum Ensiklopedis[11] abad ke-18 atau materialisme Feuerbach. Hal ini tak perlu diragukan lagi. Namun, materialisme dialektis Marx dan Engels melangkah lebih jauh daripada kaum Ensiklopedis dan Feuerbach, karena ia menerapkan filsafat materialis ke dalam ranah sejarah dan ilmu-ilmu sosial. Kita harus memerangi agama, itulah prinsip dasar dari semua materialisme, dan oleh karenanya Marxisme. Akan tetapi, Marxisme bukanlah materialisme yang mandek sekadar pada prinsip dasar itu. Marxisme melangkah lebih jauh. Ia menyatakan: Kita harus tahu bagaimana memerangi agama, dan untuk dapat melakukannya, kita harus menjelaskan sumber keyakinan dan agama di kalangan massa secara materialistis. Upaya memerangi agama tidak boleh dibatasi pada khotbah ideologis yang abstrak, dan tidak boleh direduksi menjadi sekadar khotbah semacam itu. Upaya tersebut harus ditautkan dengan praktik konkret gerakan kelas pekerja, yang bertujuan melenyapkan akar-akar sosial agama itu sendiri. Mengapa agama tetap mempertahankan cengkeramannya pada lapisan kaum proletar kota yang terbelakang, pada lapisan luas kaum semi-proletar, dan pada massa kaum tani? “Karena kebodohan rakyat,” jawab kaum borjuis progresif, kaum borjuis radikal, atau kaum materialis borjuis. Karena itu pula mereka berseru: “Ganyang agama dan hidup ateisme; penyebaran pandangan ateis adalah tugas utama kita!” Kaum Marxis akan merespons bahwa itu tidak benar, bahwa itu adalah pandangan yang dangkal, pandangannya kaum pencerah borjuis yang picik. Pandangan semacam itu tidak menjelaskan akar-akar agama secara cukup mendalam; alih-alih menjelaskannya secara materialistis, mereka justru menjelaskannya secara idealistis. Di negara-negara kapitalis modern, akar-akar ini utamanya bersifat sosial. Akar terdalam agama dewasa ini adalah kondisi rakyat pekerja yang tertindas secara sosial, serta ketidakberdayaan mereka yang tampak begitu mutlak di hadapan kekuatan buta kapitalisme. Kekuatan buta ini, setiap hari dan setiap jam, menimpakan penderitaan paling mengerikan dan siksaan paling biadab kepada rakyat pekerja biasa; siksaan yang ribuan kali lebih kejam daripada yang ditimbulkan oleh peristiwa luar biasa seperti perang, gempa bumi, dsb. “Ketakutanlah yang menciptakan para dewa.” Ketakutan terhadap kekuatan buta modal, disebut buta karena tak dapat diprediksi oleh massa rakyat. Inilah kekuatan yang di setiap langkah kehidupan kaum proletar dan kaum pemilik kecil selalu mengancam mereka dengan kehancuran, kemelaratan, pelacuran, kematian akibat kelaparan yang datang dengan begitu “tiba-tiba”, dengan begitu “tak terduga”. Inilah akar dari agama modern yang harus selalu diingat pertama dan utama oleh seorang materialis, bila ia tidak mau terus-menerus menjadi materialis kelas TK. Buku edukasi macam apa pun tidak akan pernah bisa mencabut agama dari benak massa yang diinjak-injak oleh kerja rodi kapitalis, dan yang nasibnya berada di bawah belas kasihan kekuatan destruktif buta kapitalisme. Agama tidak akan lenyap sampai massa itu sendiri belajar untuk melawan akar agama ini, yakni melawan kekuasaan modal dalam segala bentuknya, lewat perjuangan yang terorganisasi, terencana, dan sadar, yang menyatukan kelas mereka.

Apakah ini berarti buku-buku edukasi yang menentang agama lantas menjadi berbahaya atau tidak lagi diperlukan? Tidak, sama sekali bukan begitu maksudnya. Hal ini justru menegaskan bahwa propaganda ateis kaum Sosial-Demokrat harus ditundukkan di bawah tugas utamanya, yakni memajukan perjuangan kelas dari massa yang terhisap melawan kelas penghisap.

Usulan ini mungkin tidak akan dipahami (atau setidaknya tidak segera dipahami) oleh mereka yang belum merenungkan prinsip-prinsip materialisme dialektis, yakni filsafat Marx dan Engels. “Bagaimana bisa begitu?” kilahnya. Apakah propaganda ideologis, penyiaran gagasan-gagasan yang tegas, serta perjuangan melawan musuh kebudayaan dan kemajuan selama ribuan tahun (yakni agama), lantas harus ditundukkan pada perjuangan kelas, yakni perjuangan demi tujuan-tujuan praktis yang konkret di lapangan ekonomi dan politik?

Ini adalah salah satu dari sekian banyak keberatan hari ini terhadap Marxisme, yang justru membuktikan adanya kesalahpahaman total terhadap dialektika Marxis. Kontradiksi yang membingungkan para pengkritik ini adalah kontradiksi yang sungguh-sungguh ada dalam kehidupan nyata; yakni sebuah kontradiksi dialektis, bukan sekadar kontradiksi verbal ataupun yang direka-reka. Menarik garis pembatas yang kaku antara propaganda teoretis ateisme, yakni upaya menghancurkan keyakinan religius di kalangan lapisan proletar tertentu, dengan keberhasilan, kemajuan, serta syarat-syarat perjuangan kelas dari lapisan tersebut, sama halnya dengan berpikir secara non-dialektis. Itu berarti mengubah batas yang cair dan relatif menjadi batas yang absolut; itu berarti memisahkan secara paksa apa yang di dalam kehidupan nyata sesungguhnya terhubungkan dan tak terpisahkan. Mari kita ambil sebuah contoh. Taruhlah kaum proletar di suatu wilayah dan di suatu industri tertentu terbelah menjadi dua. Kelompok pertama adalah kaum Sosial-Demokrat yang maju, yang memiliki kesadaran kelas dan tentu saja ateis. Sementara kelompok kedua adalah buruh-buruh yang lebih terbelakang, yang masih memiliki ikatan dengan pedesaan dan tradisi kaum tani, dan masih percaya kepada Tuhan, pergi ke gereja, atau bahkan berada di bawah pengaruh langsung pastor setempat, yang, katakanlah, sedang mengorganisasi sebuah serikat buruh Kristen. Mari kita asumsikan lebih lanjut bahwa perjuangan ekonomi di wilayah tersebut bermuara pada pemogokan. Sudah menjadi kewajiban seorang Marxis untuk menempatkan keberhasilan gerakan pemogokan ini di atas segalanya. Ia harus melawan dengan gigih setiap upaya yang memecah-belah kaum buruh di tengah perjuangan ini menjadi kubu ateis versus kubu Kristen, serta menentang keras perpecahan semacam itu. Propaganda ateis dalam kondisi seperti ini bisa jadi tidak diperlukan sekaligus berbahaya. Bukan karena ketakutan filistin (kepengecutan) bahwa kita akan menjauhkan kelompok yang terbelakang, atau takut kehilangan kursi dalam pemilihan, dan sebagainya. Melainkan demi mempertimbangkan kemajuan yang nyata dari perjuangan kelas itu sendiri, yang mana, dalam kondisi masyarakat kapitalis modern, akan menuntun para buruh Kristen tersebut menuju Sosial-Demokrasi dan ateisme seratus kali lipat lebih efektif dibandingkan sekadar propaganda ateis yang mentah. Mengkhotbahkan ateisme pada momen dan situasi seperti ini justru hanya akan menguntungkan kaum klerus. Sebab, tidak ada yang lebih diinginkan oleh kaum klerus selain memecah belah buruh yang semula bersatu berdasarkan partisipasi mereka dalam pemogokan menjadi terbelah berdasarkan keyakinan mereka kepada Tuhan. Seorang anarkis yang setiap saat menyerukan perang terhadap Tuhan pada kenyataannya justru sedang membantu kaum klerus dan borjuasi (sebagaimana kaum anarkis dalam praktiknya memang selalu membantu borjuasi). Seorang Marxis haruslah menjadi seorang materialis, yakni musuh agama. Namun, ia harus menjadi materialis yang dialektis. Artinya, ia memperlakukan perjuangan melawan agama bukan secara abstrak, bukan berpijak pada khotbah teoretis yang terasing dari realitas dan tak pernah berubah, melainkan secara konkret, di atas basis perjuangan kelas yang tengah berlangsung dalam praktik, sebuah praktik yang mendidik massa lebih jauh dan lebih baik daripada cara apa pun. Seorang Marxis harus mampu memandang situasi konkret secara menyeluruh. Ia harus selalu mampu menemukan batas antara anarkisme dan oportunisme (batas ini memang relatif, cair, dan bisa berubah, namun ia nyata adanya). Dan pada akhirnya, ia tidak boleh tunduk pada “revolusionisme” kaum anarkis yang abstrak dan garang di kata-kata namun sejatinya kosong. Ia juga tidak boleh tunduk pada filistinisme dan oportunisme kaum borjuis kecil atau intelektual liberal, yakni mereka yang gentar menghadapi perjuangan melawan agama, lupa bahwa itu adalah tugasnya, berdamai dengan keyakinan pada Tuhan, dan bertindak bukan berdasarkan kepentingan perjuangan kelas, melainkan berdasarkan pertimbangan kerdil dan picik untuk tidak menyinggung, tidak menolak, dan tidak menakut-nakuti siapa pun – berlindung di balik pepatah bijak: “tepo seliro”, dsb.

Dari sudut pandang inilah segala persoalan sampingan yang berkaitan dengan sikap kaum Sosial-Demokrat terhadap agama harus diselesaikan. Sebagai contoh, sering kali ada yang bertanya: apakah seorang pastor bisa menjadi anggota Partai Sosial-Demokrat atau tidak? Pertanyaan ini lazimnya dijawab iya secara mutlak, dengan merujuk pada pengalaman partai-partai Sosial-Demokrat di Eropa sebagai buktinya. Akan tetapi, pengalaman tersebut lahir bukan semata-mata dari penerapan doktrin Marxis ke dalam gerakan buruh, melainkan juga dari kondisi historis khusus di Eropa Barat yang tidak dijumpai di Rusia (kita akan membahas kondisi ini lebih lanjut nanti). Oleh karena itu, memberikan jawaban afirmatif tanpa syarat dalam kasus ini adalah suatu kekeliruan. Kita tidak bisa memukul rata dan menetapkan secara permanen bahwa pastor sama sekali tidak boleh menjadi anggota Partai Sosial-Demokrat; namun, aturan sebaliknya juga tidak bisa dibakukan begitu saja. Jika seorang pastor datang kepada kita untuk ikut serta dalam kerja politik bersama dan dengan tulus menjalankan tugas-tugas Partai tanpa menentang program Partai, ia dapat diizinkan bergabung ke dalam barisan kaum Sosial-Demokrat. Sebab, dalam situasi semacam itu, kontradiksi antara semangat dan prinsip-prinsip program kita dengan keyakinan religius sang pastor akan menjadi urusannya sendiri, menjadi kontradiksi pribadinya semata. Lagi pula, sebuah organisasi politik tidak bisa menggelar interogasi terhadap anggota-anggotanya hanya untuk memastikan tidak ada kontradiksi antara pandangan pribadi mereka dengan program Partai. Namun tentu saja, kasus semacam itu mungkin merupakan pengecualian yang langka bahkan di Eropa Barat, sementara di Rusia hal tersebut nyaris mustahil terjadi. Dan seandainya, sebagai contoh, seorang pastor bergabung dengan Partai Sosial-Demokrat lalu menjadikan penyebaran pandangan religius secara aktif di dalam Partai sebagai tugas utamanya, atau bahkan satu-satunya pekerjaannya, maka tanpa keraguan sedikit pun Partai harus memecatnya. Kita tidak saja harus menerima kaum buruh yang masih mempertahankan keyakinan kepada Tuhan ke dalam Partai Sosial-Demokrat, tetapi juga harus secara sadar berupaya merekrut mereka. Kita mutlak menentang segala bentuk pelecehan sekecil apa pun terhadap keyakinan religius mereka, tetapi kita merekrut mereka justru untuk mendidik mereka dalam semangat program kita, dan bukan untuk memberikan ruang bagi perlawanan aktif yang menentang program partai. Kita mengizinkan kebebasan berpendapat di dalam tubuh Partai, tetapi dengan batas-batas tertentu yang ditentukan oleh kebebasan berfaksi. Kita sama sekali tidak memiliki kewajiban untuk berjalan beriringan dengan orang-orang yang secara aktif mengampanyekan pandangan-pandangan yang telah ditolak oleh mayoritas anggota Partai.

Contoh lainnya. Haruskah anggota Partai Sosial-Demokrat dikecam secara pukul rata dalam segala situasi hanya karena menyatakan “sosialisme adalah agamaku”, dan karena menyebarkan pandangan yang sejalan dengan pernyataan tersebut? Tentu saja tidak! Penyimpangan dari Marxisme (dan dengan sendirinya, penyimpangan dari sosialisme) dalam hal ini memang tidak bisa dibantah; namun signifikansi dari penyimpangan tersebut, atau katakanlah, bobot relatifnya, dapat berbeda-beda bergantung pada situasinya. Adalah satu hal ketika seorang agitator, atau seseorang yang tengah berbicara di hadapan buruh, menggunakan kalimat semacam ini agar maksudnya lebih mudah dipahami. Ia menggunakannya sebagai pengantar topik, untuk menyajikan pandangannya secara lebih gamblang melalui istilah-istilah yang paling diakrabi oleh massa yang terbelakang. Namun, adalah hal yang sama sekali berbeda ketika seorang penulis mulai mengkhotbahkan “pembangunan-Tuhan”[12] (god-building), atau sosialisme pembangunan-Tuhan (seperti yang diekspresikan, misalnya, oleh Lunacharsky[13] dkk.). Dalam kasus pertama, kecaman hanya akan menjadi tindakan mencari-cari kesalahan belaka, atau bahkan menjadi bentuk pembatasan yang tidak pada tempatnya terhadap kebebasan sang agitator, yakni kebebasannya dalam memilih metode “pedagogis”. Akan tetapi, dalam kasus kedua, kecaman dari Partai adalah sesuatu yang mutlak dan esensial. Bagi sebagian orang, pernyataan “sosialisme adalah agama” merupakan bentuk transisi dari agama menuju sosialisme; sementara bagi sebagian lainnya, itu justru wujud transisi dari sosialisme menuju agama.

Mari kita beralih pada kondisi-kondisi di Barat yang telah melahirkan tafsir oportunis terhadap tesis: “agama adalah urusan pribadi”. Tentu saja, tafsir oportunis ini turut dipengaruhi oleh faktor-faktor umum yang memicu bangkitnya oportunisme secara keseluruhan, seperti kebiasaan mengorbankan kepentingan fundamental gerakan kelas pekerja demi keuntungan sesaat. Partai proletariat menuntut agar negara mendeklarasikan agama sebagai urusan pribadi, tetapi sama sekali tidak memandang perjuangan melawan candu rakyat, atau perjuangan menumpas takhayul keagamaan, dan sebagainya, sebagai “urusan pribadi”. Kaum oportunis mendistorsi pokok persoalan ini sehingga seolah-olah bermakna bahwa Partai Sosial-Demokrat-lah yang menganggap agama sebagai urusan pribadi!

Namun, selain distorsi oportunis yang lazim terjadi (sebuah poin yang sama sekali luput diperjelas dalam diskusi internal fraksi Duma kita saat mengkaji pidato tentang agama tersebut), terdapat kondisi-kondisi historis khusus yang telah melahirkan sikap abai kaum Sosial-Demokrat Eropa dewasa ini terhadap persoalan agama, sebuah ketidakpedulian yang, jika boleh dikatakan demikian, sudah pada tahap berlebihan. Kondisi-kondisi historis ini bercorak ganda. Pertama, secara historis, tugas memerangi agama sejatinya adalah tugas dari borjuasi revolusioner, dan di Barat, tugas ini sebagian besar telah diemban (atau dituntaskan) oleh demokrasi borjuis pada epos revolusi mereka, atau pada masa ketika mereka melancarkan gempuran terhadap feodalisme dan peradaban Abad Pertengahan. Baik di Prancis maupun di Jerman, terdapat tradisi peperangan borjuis melawan agama yang telah dimulai jauh sebelum lahirnya sosialisme (sebagaimana yang dilakukan oleh para Ensiklopedis dan Feuerbach). Sebaliknya di Rusia, karena kondisi revolusi demokratik-borjuis kita yang khas, tugas ini pun pada akhirnya jatuh nyaris sepenuhnya ke atas pundak kelas pekerja. Demokrasi borjuis-kecil (kaum Narodnik) di negara kita belum berbuat banyak dalam hal ini (sebagaimana yang disangkakan oleh kaum Kadet Black-Hundred[14] baru dari Vekhi[15]); justru sebaliknya, mereka berbuat terlalu sedikit jika dibandingkan dengan apa yang telah dicapai di Eropa.

Di sisi lain, tradisi peperangan borjuis melawan agama di Eropa telah membuahkan sebuah distorsi borjuis yang unit atas peperangan ini, yakni distorsi yang digerakkan oleh anarkisme. Sebagaimana telah dijelaskan berulang kali oleh kaum Marxis, anarkisme pada hakikatnya tetap berpijak pada pandangan-dunia borjuis, terlepas dari betapa “ganasnya” serangan-serangan mereka terhadap kelas borjuasi. Kaum anarkis dan Blanquist di negara-negara Amerika Latin; Johann Most[16] (yang kebetulan merupakan murid Dühring) beserta kelompoknya di Jerman; hingga kaum anarkis di Austria pada era delapan puluhan, mereka semua telah membawa retorika revolusioner kosong dalam perjuangan melawan agama hingga mencapai titik ekstrem. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika, sebagai reaksi terhadap kaum anarkis, kaum Sosial-Demokrat Eropa dewasa ini justru berayun ke titik ekstrem yang sebaliknya. Sikap ini sangat bisa dipahami dan sampai batas tertentu dapat dibenarkan. Akan tetapi, merupakan suatu kesalahan apabila kita, kaum Sosial-Demokrat Rusia, sampai melupakan kondisi-kondisi historis yang khusus di Barat tersebut.

Kedua, di Barat, setelah revolusi-revolusi borjuis nasional usai, dan setelah kebebasan beragama yang kurang-lebih penuh telah diberlakukan, persoalan perjuangan demokratik melawan agama secara historis telah terdesak begitu jauh ke latar belakang. Posisinya digeser oleh perjuangan demokrasi borjuis melawan sosialisme. Sedemikian terdesaknya persoalan ini, hingga pemerintah-pemerintah borjuis dengan sengaja berupaya mengalihkan perhatian massa dari sosialisme dengan cara meluncurkan “ofensif” kuasi-liberal terhadap klerikalisme. Demikianlah watak sesungguhnya dari Kulturkampf di Jerman, maupun watak dari perjuangan kaum republikan borjuis melawan klerikalisme di Prancis. Anti-klerikalisme borjuis, sebagai cara untuk memalingkan perhatian massa kelas pekerja dari sosialisme – inilah yang mendasari merebaknya semangat “ketidakpedulian” modern terhadap perjuangan melawan agama di kalangan kaum Sosial-Demokrat di Barat. Dan sekali lagi, ini sangat bisa dipahami serta dapat dibenarkan, karena kaum Sosial Demokrat harus melawan anti-klerikalisme borjuis maupun anti-klerikalisme ala Bismarck tersebut dengan cara menundukkan perjuangan melawan agama di bawah perjuangan demi sosialisme.

Di Rusia, kondisinya sama sekali berbeda. Kaum proletar adalah pemimpin revolusi demokratik-borjuis kita. Partainya harus tampil sebagai pemimpin ideologis dalam perjuangan melawan seluruh atribut Abad Pertengahan, termasuk di dalamnya agama resmi yang usang dan tiap-tiap upaya untuk memolesnya kembali atau memberinya justifikasi baru, dsb. Oleh karena itu, Engels memang bersikap relatif lunak ketika mengoreksi oportunisme kaum Sosial-Demokrat Jerman, karena mereka telah mendistorsi tuntutan partai kelas pekerja agar negara mendeklarasikan agama sebagai urusan pribadi menjadi sekedar deklarasi bahwa agama adalah urusan pribadi bagi kaum Sosial-Demokrat itu sendiri dan bagi Partai Sosial-Demokrat. Akan tetapi, jelas bahwa apabila kaum oportunis Rusia mengimpor distorsi Jerman semacam ini maka tindakan tersebut sudah pasti akan diganjar dengan teguran yang seratus kali lipat lebih keras oleh Engels.

Dengan mengumandangkan dari mimbar Duma bahwa agama adalah candu bagi rakyat, fraksi Duma kita telah mengambil langkah yang sangat tepat, dan menciptakan preseden yang patut dijadikan landasan bagi setiap pernyataan kaum Sosial-Demokrat Rusia mengenai persoalan agama. Lantas, haruskah mereka melangkah lebih jauh dan menjabarkan argumen ateis tersebut secara lebih terperinci? Kami rasa tidak. Langkah semacam itu justru membawa risiko: partai politik kaum proletar bisa tergelincir pada sikap membesar-besarkan perjuangan melawan agama. Hal itu pada gilirannya dapat bermuara pada terhapusnya garis demarkasi yang memisahkan antara perjuangan borjuis dan perjuangan sosialis dalam melawan agama. Tugas pertama dari fraksi Sosial-Demokrat di dalam sarang Duma Black-Hundred tersebut telah ditunaikan dengan penuh kehormatan.

Tugas kedua – dan barangkali yang paling penting bagi kaum Sosial-Demokrat – yakni, menjelaskan peran kelas yang dimainkan oleh gereja dan kaum klerus dalam menyokong pemerintah Ratusan-Hitam serta kelas borjuasi dalam perlawanan mereka terhadap kelas pekerja, juga telah ditunaikan dengan penuh kehormatan. Tentu saja, masih banyak hal yang bisa disampaikan mengenai persoalan ini, dan kaum Sosial-Demokrat dalam pernyataan-pernyataan mereka di masa depan akan tahu bagaimana mengembangkan lebih lanjut poin-poin dalam pidato Kamerad Surkov. Namun demikian, pidatonya tetaplah sebuah pidato yang luar biasa, dan menyebarluaskan pidato tersebut melalui seluruh organisasi Partai adalah tugas langsung Partai kita.

Tugas ketiga adalah menjelaskan secara mendalam makna yang tepat dari proposisi “agama adalah urusan pribadi”, sebuah pernyataan yang begitu sering didistorsi oleh kaum oportunis Jerman. Sayangnya, Kamerad Surkov tidak melakukan hal ini. Kegagalan ini patut disesali, terlebih karena dalam aktivitas fraksi Duma sebelumnya, Kamerad Belousov juga telah melakukan kesalahan serupa yang pada saat itu telah dikritik oleh surat kabar Proletary . Diskusi di dalam fraksi Duma menunjukkan bahwa perdebatan mengenai ateisme telah mengaburkan persoalan utama tentang bagaimana menafsirkan secara benar tuntutan mahsyur agar agama dinyatakan sebagai urusan pribadi. Kita tidak akan menyalahkan Kamerad Surkov seorang atas kekeliruan yang dilakukan oleh seluruh fraksi Duma ini. Lebih dari itu, kita harus mengakui secara jujur bahwa seluruh Partai bersalah dalam hal ini; karena kita belum cukup menjelaskan persoalan tersebut dan belum cukup mempersiapkan pemikiran kaum Sosial-Demokrat untuk memahami teguran Engels yang diarahkan kepada kaum oportunis Jerman. Diskusi di dalam fraksi Duma membuktikan bahwa yang terjadi sebenarnya adalah kerancuan dalam memahami persoalan, dan sama sekali bukan karena adanya keinginan untuk mengabaikan ajaran Marx. Kami yakin bahwa kesalahan ini akan dikoreksi dalam pernyataan-pernyataan fraksi di masa mendatang.

Kami tegaskan sekali lagi bahwa secara keseluruhan, pidato Kamerad Surkov sangat luar biasa dan harus disebarluaskan oleh seluruh organisasi. Melalui diskusi mengenai pidato ini, fraksi Duma telah menunjukkan bahwa mereka menunaikan kewajiban Sosial-Demokrat mereka dengan penuh tanggung jawab. Kini, yang perlu disampaikan adalah harapan agar laporan mengenai diskusi-diskusi di internal fraksi Duma dapat lebih sering dimuat dalam pers Partai. Hal ini penting guna mempererat hubungan antara fraksi dan Partai, memperkenalkan Partai pada kerja berat yang dilakukan di dalam fraksi, serta membangun kesatuan ideologis dalam kerja-kerja Partai dan fraksi Duma.


Keterangan:

[1] Duma Ketiga (1907–1912) – parlemen “rekayasa” Tsar Rusia yang dibentuk setelah Tsar Nicholas II membubarkan Duma Kedua karena dianggap terlalu radikal dan didominasi oleh partai-partai sayap-kiri. Duma ke-3 secara drastis mengurangi keterwakilan buruh, tani, dan kaum miskin, sekaligus memperkuat posisi tuan tanah dan kaum kapitalis. Lenin menyebut Duma ini sebagai parlemen “rekayasa” yang kontra-revolusioner. Bagi kaum Bolshevik, keterlibatan dalam Duma Ketiga bukanlah bentuk kepercayaan terhadap reformasi parlementer, melainkan langkah taktis untuk melakukan agitasi, membongkar watak autokrasi, mengkritik kompromi kaum liberal, serta mengorganisasi politik revolusioner di tengah massa. (Baca The Third Duma and Social Democracy oleh Lenin)

[2] Ludwig Feuerbach (1804-1872) – filsuf materialis Jerman abad ke-19 yang menjadi salah satu pengaruh penting bagi perkembangan awal pemikiran Marx dan Engels. Feuerbach terkenal karena kritiknya terhadap agama sebagai proyeksi sifat-sifat manusia ke dalam sosok Tuhan. Dalam pandangannya, manusia menciptakan Tuhan berdasarkan kebutuhan, keterasingan, dan hasrat manusia sendiri. Kritik inilah yang membuat Marx dan Engels menganggap Feuerbach sebagai pelopor materialisme modern serta titik awal penting bagi kritik Marxis terhadap agama. Feuerbach dianggap hanya memahami manusia sebagai individu terisolasi dan tidak melihat bahwa kesadaran manusia dibentuk oleh hubungan sosial serta praktik historis. Dalam Theses on Feuerbach (1845) terutama Tesis ke-6, Marx menulis: “Feuerbach menguraikan esensi agama ke dalam esensi manusia. Tetapi esensi manusia bukanlah abstraksi yang inheren di dalam tiap-tiap individu. Dalam kenyataannya, esensi manusia ini adalah himpunan relasi-relasi sosial.” Marx juga menilai Feuerbach gagal memahami pentingnya praktik revolusioner dalam mengubah masyarakat. Karena itu Marx menegaskan dalam Tesis ke 11nya: “Para filsuf hanya menafsirkan dunia dengan berbagai cara; namun intinya adalah mengubahnya.” Dari kritik tersebut, Marx dan Engels kemudian mengembangkan materialisme Feuerbach menjadi materialisme historis dan dialektis, yakni pandangan bahwa agama dan kesadaran manusia harus dijelaskan melalui kondisi sosial-material serta perjuangan kelas dalam sejarah, bukan semata-mata melalui sifat abstrak manusia.

[3] Eugen Karl Dühring (1833–1921) – dosen Universitas Berlin yang sempat menjadi rival intelektual utama Karl Marx dan Friedrich Engels dalam gerakan sosialis Jerman. Dühring mencoba menggantikan teori materialisme historis Marx dengan sistem “Filsafat Realitas” miliknya sendiri, yang ia klaim sebagai kebenaran mutlak dan sistematis mencakup logika, moralitas, hingga ekonomi. Ia menolak penggunaan logika dialektika dan teori nilai lebih, yang menurutnya terlalu abstrak. Pengaruh Dühring yang meluas di Partai Demokrat Sosial Jerman (SPD) memicu Engels menulis buku Anti-Dühring (1878), sebuah karya yang tidak hanya membantah argumen Dühring poin demi poin, tetapi juga menjadi referensi paling krusial dalam mensistematisasikan Marxisme sebagai ilmu pengetahuan (sosialisme ilmiah). Di kemudian hari, pandangan Dühring yang semakin radikal dan sentimen anti-semitnya membuat ia dikucilkan dari lingkaran akademik maupun politik.

[4] Lihat K. Marx, Contribution to the Critique of the Hegelian Philosophy of Right. Introduction.

[5] Kaum Blanquist adalah pengikut Louis Auguste Blanqui, seorang revolusioner Prancis abad ke-19 yang mengembangkan gagasan bahwa revolusi dapat dilakukan oleh sekelompok kecil konspirator yang terorganisasi dengan baik, tanpa perlu keterlibatan luas dari massa rakyat. Engels menulis: “Dari anggapan Blanqui bahwa setiap revolusi dapat dilakukan melalui aksi sekelompok kecil minoritas revolusioner, secara otomatis muncul kebutuhan akan kediktatoran setelah gerakan itu berhasil. Namun, yang dimaksud di sini tentu bukan kediktatoran seluruh kelas revolusioner, yakni proletariat, melainkan kediktatoran minoritas kecil yang menjalankan revolusi tersebut, dan yang sebelumnya telah terorganisasi di bawah kepemimpinan diktatorial satu atau beberapa individu.” (F. Engels, The programme of the Blanquist fugitives from the Commune)

[6] Lihat F. Engels, “Flüchtlings-Literatur. II. Das Programme der Blanquisten”

[7] Kulturkampf (“perjuangan budaya”) merupakan kampanye yang diluncurkan Kanselir Otto von Bismarck (1871–1878) untuk menekan pengaruh Gereja Katolik di Kekaisaran Jerman yang baru bersatu. Bismarck mencurigai loyalitas umat Katolik  yang dianggap lebih setia kepada Paus daripada kepada negara. Kebijakan ini melibatkan pengusiran ordo Jesuit, pengambilalihan kontrol sekolah oleh negara, serta penangkapan pendeta yang membangkang. Kampanye ini gagal secara politik setelah Partai Pusat (Katolik) justru semakin kuat, memaksa Bismarck berkompromi dengannya demi melawan bangkitnya gerakan sosialis.

[8] Lihat F. Engels, Anti-Dühring, Moscow, 1959, hlm. 434-37.

[9] Erfurt Program – program politik yang disusun dan disahkan oleh Social Democratic Party of Germany (SPD) di kongres pada tahun 1891 di kota Erfurt. Program ini menjadi dasar ideologis sosial demokrasi Jerman dengan menggabungkan analisis Karl Marx mengenai kapitalisme dan perjuangan kelas dengan tuntutan reformasi demokratis, seperti hak pilih universal, kebebasan berserikat, perlindungan buruh, dan reformasi sosial melalui jalur parlementer.

[10] Hal ini merujuk pada kata pengantar F. Engels pada pamflet K. Marx The Civil War in France (lihat K. Marx dan F. Engels, Selected Works, Vol. 1, Moscow, 1958, hlm. 479).

[11] Kaum Ensiklopedis – sekelompok filsuf, ilmuwan alam, dan publisis Pencerahan Prancis abad ke-18 yang bersama-sama menerbitkan Encyclopédie ou dictionnaire raisonné des sciences, des arts et des métiers (Ensiklopedia atau Kamus Penjelasan tentang Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Profesi) pada 1751–1772. Penerbitan ini disusun dan dipimpin oleh Denis Diderot, dengan asisten terdekatnya Jean le Rond d’Alembert. Paul Henri Holbach, Claude Adrien Helvétius, dan Voltaire turut berperan aktif dalam penerbitan Ensiklopedia tersebut, sementara Jean‑Jacques Rousseau menyumbangkan tulisan untuk jilid-jilid awalnya. Kaum Ensiklopedis merupakan ideolog borjuasi revolusioner dan memainkan peran menentukan dalam persiapan ideologis bagi revolusi borjuis Prancis 1789.

[12] God-building (bogostroitelstvo) adalah kecenderungan filsafat dan kebudayaan dalam gerakan Marxis Rusia awal abad ke-20 yang berusaha merekonstruksi fungsi sosial dan psikologis agama di dalam kerangka sosialis. Arus ini berkembang di kalangan intelektual Bolshevik tertentu, terutama Anatoly Lunacharsky, serta dipengaruhi oleh pemikiran Ernst Mach dan filsafat positivisme. Para pendukung god-building berpendapat bahwa meskipun agama tradisional didasarkan pada ilusi metafisis, kebutuhan manusia akan makna kolektif, simbol moral, dan solidaritas emosional tetap harus dipenuhi dalam masyarakat sosialis. Karena itu, mereka mencoba membentuk “agama kemanusiaan” baru yang menempatkan umat manusia, kerja kolektif, dan cita-cita sosialisme sebagai objek pengabdian moral. Pandangan ini dikritik keras oleh Lenin karena menyimpang dari Marxisme dan membuka ruang bagi masuknya unsur-unsur idealisme religius ke dalam Marxisme.

[13] Anatoly Lunacharsky (1875–1933) – Bolshevik, filsuf, kritikus sastra, dan tokoh kebudayaan Soviet yang dikenal sebagai Komisaris Rakyat untuk Pendidikan pertama setelah Revolusi Oktober. Ia berperan penting dalam pengembangan kebijakan pendidikan, seni, dan kebudayaan awal negara Soviet.

[14] Black Hundreds (Chornaya Sotnya) – organisasi reaksioner dan ultra-nasionalis di Rusia pada awal abad ke-20 yang bertindak sebagai milisi pro-monarki untuk menumpas gerakan revolusioner 1905. Kelompok ini terdiri dari elemen-elemen tuan tanah, polisi rahasia, dan massa rakyat yang terbelakang secara politik, yang dimobilisasi melalui sentimen rasisme, anti-Yahudi dan loyalitas buta kepada Tsar

[15] Vekhi (Landmarks), sebuah antologi artikel terbitan Moskwa tahun 1909 yang disusun oleh kaum Kadet, memuat tulisan-tulisan dari N. Berdyaev, S. Bulgakov, P. Struve, M. Herschensohn, serta para perwakilan borjuasi liberal kontra-revolusioner lainnya. Melalui artikel-artikel mereka mengenai inteligensia Rusia, para penulis ini berupaya mendiskreditkan tradisi demokratik-revolusioner dari putra-putra terbaik bangsa Rusia, termasuk Belinsky dan Chernyshevsky. Mereka mencerca gerakan revolusioner 1905 dan menghaturkan rasa terima kasih kepada pemerintah tsaris karena, melalui “bayonet dan penjara” mereka, telah menyelamatkan kelas borjuasi dari “kemarahan rakyat”. Para penulis tersebut bahkan menyerukan agar kaum inteligensia menghamba kepada autokrasi. Lenin menyamakan program simposium Vekhi ini, baik dari segi filsafat maupun jurnalisme, dengan haluan surat kabar Black-Hundred, Moskovskiye Vedomosti. Ia mengutuk kumpulan esai tersebut sebagai “ensiklopedia pembelotan liberal”, yang “tak lebih dari luapan lumpur reaksioner yang ditumpahkan ke atas demokrasi”.

[16] Johann Most (1846–1906) – seorang politikus sosialis Jerman yang kemudian menjadi tokoh sentral anarkisme radikal internasional. Awalnya ia merupakan anggota parlemen Jerman dari Partai Demokrat Sosial, namun pandangannya yang semakin ekstrem menyebabkannya diusir dari partai pada 1880. Setelah pindah ke Amerika Serikat, ia menjadi pendukung taktik “Propaganda by the Deed” (Propaganda melalui Tindakan), yang membenarkan penggunaan kekerasan dan sabotase sebagai sarana untuk memicu revolusi rakyat. Publikasinya yang terkenal, pamflet Revolutionäre Kriegswissenschaft (Sains Perang Revolusioner), memberikan instruksi teknis mengenai penggunaan bahan peledak

[17] Proletary (Si Proletar) – surat kabar ilegal Bolshevik yang diterbitkan antara tahun 1906 hingga 1909 sebagai pengganti surat kabar Vperyod. Di bawah redaksi Lenin, surat kabar ini berfungsi sebagai organ pusat faksi Bolshevik di dalam Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia (RSDLP) untuk melawan pengaruh faksi Menshevik. Proletary menjadi medan tempur intelektual utama di mana Lenin merumuskan taktik revolusioner pasca-Revolusi 1905 dan melakukan kritik tajam terhadap kelompok “Otzovist” (yang ingin menarik diri dari parlemen) serta aliran filsafat “Pencari Tuhan” di dalam partainya sendiri. Penerbitannya dilakukan di berbagai lokasi untuk menghindari sensor, termasuk Jenewa dan Paris, sebelum akhirnya dilarang oleh otoritas Tsaris.